Mengatasi Kesulitan Belajar

Kesulitan belajar merupakan hal yang lumrah dialami oleh siswa. Sering ditemukan adanya siswa mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran di sekolah. Menghadapi hambatan dalam mencerna dan menyerap informasi belajar yang diberikan guru.
Kondisi ini akan berdampak kurang bagus terhadap kemajuan belajar anak. Oleh sebab itu perlu diupayakan pemecahan masalahnya. Baik oleh guru di sekolah maupun orang tua di rumah. Ini sebagai salah satu wujud kepedulian dan kerja sama dalam dunia pendidikan anak.

Gejala kesulitan belajar
Gejala anak yang mengalami masalah belajar dapat diketahui melalui indikasi tertentu. Misalnya, sulit mengalami ketuntasan belajar pada materi tertentu atau semua materi pada suatu mata pelajaran. Akibatnya siswa menunjukkan prestasi belajar kurang memuaskan.

Contoh kesulitan belajar adalah :
a. Kesulitan membaca, yaitu kesulitan atau ketidakmampuan mengenal huruf, anak tidak dapat menyambung suku kata, atau penglihatannya kurang baik.
b. Kesulitan belajar menghitung (diskalkulia), yaitu kesulitan melaksanakan tugas-tugas berhitung dan gangguan yang berhubungan dengan pemahaman dan penerapan konsep-konsep matematika. Dari penelitian di Amerika diperoleh hasil bahwa banyak siswa kelas 3-4 dan 5-6 SD mengalami kesulitan dengan bilangan pecahan, decimal, persen, dan pengukuran. Kondisi ini disebabkan siswa kurang memahami arti symbol, salah menghitung atau menentukan hasil akhir dari suatu hitungan.
c. Gangguan pemusatan perhatian (rentang perhatian pendek), yaitu gangguan perhatian yang mudah teralih dam mempunyau aktivitas fisik yang sangat tinggi, sehingga tidak bisa memusatkan perhatian dan sulit berkonsentrasi. Padahal supaya berhasil disekolah, siswa harus mengenali dan menjaga pikirannya agar sejalan dengan tugas-tugas yang diberikan guru, dan harus mampu untuk segera mengalihkan perhatiannya pada mata pelajaran baru, bila mata pelajaran yang lain sudah berlalu. Gangguan pemusatan perhatian dapat menimbulkan kelainan tingkah laku. Misalnya sulit membedakan kanan dan kiri, sulit memahami dan merespon tugas ganda, sulit memahami bentuk-bentuk geometris, dan sulit menangkap instruksi karena siswa kurang konsentrasi sehingga kurang memahami perintah tersebut. Pada umumnya, yang banyak mengalami gangguan ini anak laki-laki dan perempuan yang ditentukan oleh kromosom Y. Penyebab gangguan ini adalah adanya kelainan syaraf otak. Gangguan ini dapat diatasi dengan obat-obatan dan psikoterapi.
d. Motivasi belajar rendah, yaitu contoh kasus anak yang mempunyai hasil tes IQ diatas rata-rata atau rata-rata, namun prestasi belajarnya disekolah rendah. Berdasarkan suatu penelitian bahwa sangat sedikit anak yang menunjukkan prestasi yang sama dengan kecerdasannya. Pada kenyataannya kesenjangan antara prestasi dan potensi itu selalu ada. Dikatakan bahwa 14-15 % anak mengalami gejala underachiever , anak laki-laki lebih banyak mengalami hal ini bila dibandingkan dengan anak perempuan. Gejala ini muncul ketika anak usia 6 tahun dan mulai terlibat kompetisi. Penyebab underachiever anak (prestasi tidak sesuai dengan potensi ) :
Penyebab kesulitan belajar
Banyak sekali penyebab siswa mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran di sekolah. Namun dapat dikelompokkan menjadi dua faktor penyebab, yaitu faktor internal dan eksternal.
1. Faktor internal
Faktor internal adalah penyebab kesulitan belajar yang berasal dari individu siswa sendiri. Faktor ini timbul dari siswa sendiri yang seringkali tidak disadari oleh siswa yang bersangkutan atau meski disadari seringkali menganggap remeh dan tidak berusaha untuk menghiraukan atau memperbaiki. Berikut hal – hal yang bias menjadi penyebab kesulitan belajar:
a. Siswa tidak mempunyai tujuan belajar yang jelas
b. Siswa kurang berminat terhadap bahan pelajaran
c. Kesehatan siswa terganggu
d. Kebiasaan belajar yang kurang menguntungkan bagi siswa
e. Faktor-faktor bersumber dari keluarga (faktor ekonomi, disharmonisasi, kurang kontrol keluarga, tidak ada dukungan keluarga)
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal yaitu penyebab kesulitan belajar yang berasal dari luar diri siswa seperti: kondisi belajar yang tidak kondusif, beratnya beban belajar, dan lain sebagainya. Faktor disfungsi neurologis (syaraf) juga bias menjadi pemicu seorang anak mengalami kesulitan saat belajar, yang menyebabkan gangguan belajar, yakni:
a. Faktor genetik (turunan orang tua)
b. Luka otak karena trauma fisik
c. Biokimia yang merusak otak (makanan dan obat-obatan)
d. Pencemaran lingkungan
e. Pengaruh lingkungan psikologi dan sosial

Cara mengatasi kesulitan belajar
Berdasarkan gejala yang teramati dan faktor penyebab kesulitan belajar, maka upaya yang perlu dilakukan guru antara lain:
1. Tempat duduk siswa
Anak yang mengalami kesulitan pendengaran dan penglihatan hendaknya mengambil posisi tempat duduk bagian depan. Mereka akan dapat melihat tulisan di papan tulis lebih jelas. Begitu pula dalam mendengar semua informasi belajar yang diucapkan oleh guru.
2. Gangguan kesehatan
Anak yang mengalami gangguan kesehatan sebaiknya diistirahatkan di rumah dengan tetap memberinya bahan pelajaran dan dibimbing oleh orang tua dan keluarga lainnya.
3. Program remedial
Siswa yang gagal mencapai tujuan pembelajaran akibat gangguan internal, perlu ditolong dengan melaksanakan program remedial. Teknik program remedial dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah mengulang kembali bahan pelajaran yang belum dikuasai, memberikan tugas-tugas tertentu kepada siswa, dan lain sebagainya.
4. Bantuan media dan alat peraga
Penggunaan alat peraga pelajaran dan media belajar kiranya cukup membantu siswa yang mengalami kesulitan menerima materi pelajaran. Boleh jadi kesulitan belajar itu timbul karena materi pelajaran bersifat abstrak sehingga sulit dipahami siswa.
5. Suasana belajar menyenangkan
Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah menciptakan suasana belajar kondusif. Suasana belajar yang nyaman dan menggembirakan akan membantu siswa yang mengalami hambatan dalam menerima materi pelajaran.
6. Motivasi orang tua di rumah
Anak yang mengalami kesulitan belajar perlu mendapat perhatian orang tua dan anggota keluarganya. Peran orang tua sangat penting untuk memberikan motivasi ekstrinsik dan intrinsik agar anak mampu memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Selain itu juga orang tua perlu memperhatikan kesehatan tubuh anak dengan memberikan makanan dan miniman yang bergizi disertai dengan suplemen pembangun tubuh yang cukup.

by: Rifda


Comments are closed.