nyuwun 1000ne Ilang

Di suatu sore yang cerah—karena hujan sudah turun di pagi hari—

s

 

saya berjalan-jalan di lingkungan rumah saya. Sebenarnya hanya untuk sekedar berlalu lalang menghabiskan waktu sore menjelang maghrib yang cukup indah tersebut, namun baiklah bila disebut sebagai langkah untuk lebih mengenal tetangga dan lingkungan sekitar saya. Ah ya, saya termasuk orang baru di lingkungan saya. Belum lama sejak kepindahan saya, rasarasanya masih sebentar saja saya di lingkungan ini. Namun tujuan yang mulia itu ternyata harus saya gagalkan. Hanya beberapa meter dari rumah saya menuju ke arah timur, saya melihat ada sebuah jalan setapak kecil yang tidak pernah saya lewati, arahnya menuju ke sungai. Memang, saya sudah sering ke sungai, namun melewati jalan kampung yang cukup besar, bukan jalan setapak tersebut. Akhirnya saya malah berencana pergi melihat pesona sungai di sore hari melewati jalan setapak tersebut. Rumah saya berada di pinggiran kota Malang, jauh masuk ke dalam jalan kampung. Meski demikian, kampung saya termasuk wilayah yang padat. Rumah-rumah berjajar tanpa ada jarak yang luas. Sebagian besar tetangga saya malah tidak memiliki cukup halaman bahkan untuk memarkir mobilnya sendiri saja. Kembali ke jalan setapak tadi. Jalan itu cukup sempit (karena berada di antara dua pekarangan tetangga saya). Saya berjalan saja dengan santai, namun juga berhati-hati karena tanahnya licin. Zaman sekarang, bukan hal yang aneh jika di tembok-tembok yang menghadap ke arah tempat berlalu lalang orang selalu ada coretan-coretan, baik berupa tulisan maupun gambar-gambar (semoga tangan-tangan usil itu sudah mendapat persetujuan dari pemilik rumah yang temboknya dicoreti). Tanpa disangka-sangka, di sebuah tembok tetangga saya, terdapat sebuah tulisan besar (karena kebetulan rumahnya memang cukup besar) yang dapat dengan mudah dibaca oleh semua orang yang melewati jalan tersebut. Bunyinya seperti ini “Nyuwun 1000ne ilang”. Wah, saya kaget bukan kepalang. Setelah saya bertanya-tanya kepada sepupu saya yang rumahnya di sekitar wilayah tersebut, saya mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan bagi saya. Ternyata jalan itu—sama seperti jalan di depan dan samping rumah saya—setiap malam digunakan sebagai tempat lari-larian bagi anak-anak dan remaja-remaja yang sedang bermain. Bukan hanya saat bermain petak umpet, namun juga saat berlari-lari mengejar layang-layang yang putus. Kemungkinan besar, yang menulisi tembok tersebut adalah pemiliknya sendiri, yang sudah bosan melihat remaja-remaja yang semestinya sudah mengerti unggah-ungguh namun tidak pernah “nyuwun 1000” saat melewati kawasan tersebut. Kemana perginya si 1000-an itu?

**********

Pernah mengenal Aa Gym, bukan? Penceramah yang pernah kondang di seantero nusantara ini sering memikat masyarakat Indonesia melalui dakwah-dakwah yang disampaikannya. Gayanya santai, namun semua orang menyukainya. Beliau pernah menjelaskan mengenai 3S. Masih ingat apa itu 3S? Yaa… Anda benar. Senyum, sapa, salam.  Berjumpa dengan seseorang, ada baiknya kita mengikuti nasehat Aa Gym tersebut. Langkah paling mudah saat bertemu orang lain adalah dengan senyum terlebih dahulu. Setidaknya, meskipun kita tidak bisa tersenyum dalam arti sesungguhnya, kita bisa bertopeng tersenyum saat bertemu mata dengan orang lain. Dan begitulah, senyum bisa dilanjutkan dengan sapa dan salam. Ketiga kegiatan tersebut tidak bakal menghabiskan waktu kita samapai 5 menit. Setidak-tidaknya 1 menit cukuplah… Selain menunjukkan sopan santun dan unggah ungguh kepada orang-orang di sekitar kita, ketiga hal tersebut dapat mempererat tali silaturahmi kita selaku makhluk sosial.

**********

Lalu apa hubungannya nyuwun 1000 dengan 3S? Setelah saya amati, ternyata nyuwun 1000 bisa saya masukkan dalam kelompok sapa. Nyuwun 1000 senada dengan amit kalau ditujukan kepada orang yang sebaya atau yang lebih muda. Nyuwun 1000 adalah ungkapan permisi yang diucapkan kepada orang yang lebih tua. Yang menjadi pertanyaan, kemana perginya si 1000-an itu tadi? Kini ungkapan nyuwun 1000 jarang sekali didengar, bahkan di desa atau daerah kampung—yang biasanya lebih bisa melestarikan budaya unggah ungguh daripada daerah pusat kota—semacam daerah saya. Tapi kini, kemana 1000- an itu? Terlalu mahalkah sehingga sulit dan tidak terjangkau untuk diucapkan? Atau terlalu murah sehingga orang enggan untuk mengucapkan?

by: Isma


Comments are closed.