Pentingnya Jiwa Humoris Bagi Guru Dalam Pembelajaran

Seorang guru memiliki tanggung jawab besar dalam menjamin kelancaran proses belajar mengajar setiap harinya. Karena kelancaran proses belajar mengajar inilah transfer ilmu dapat berjalan dengan maksimal. Dengan proses transfer ilmu yang lancar, maka anak didik dapat menyerap ilmu yang didapat lebih banyak.

Idealnya proses belajar mengajar dapat berjalan dengan kondusif. Dengan proses belajar yang kondusif, siswa akan memiliki semangat untuk terus mengikuti pelajaran. Mereka tidak akan merasa bosan ketika berada di dalam kelas. Berbeda jika suasana kelas tidak terlalu kondusif. Akibatnya para siswa tidak memiliki semangat untuk belajar di kelas. Konsentrasi mereka akan terpecah dan rasa ngantuk pun akan menyerang. Kalau sudah begini, Suasana di kelas akan sangat membosankan.

Ketika siswa tidak dapat memahami pelajaran dengan baik, pihak pertama yang harus dievaluasi adalah guru. Bagaimana guru ini mengajarkan pelajaran kepada muridnya? Bagaimana kondisi kelas pada saat proses belajar mengajar sedang berlangsung? Pertanyaan sejenis ini layaknya ditanyakan kepada guru jika prestasi siswa jauh dari harapan.

Pentingnya Sense of Humor untuk Guru

Kriteria guru sekarang dengan dahulu sudah jauh berbeda. Jika dulu, guru harus berwibawa dan galak. Sehingga seluruh anak didik tidak berani untuk melawan. Mereka harus menurut dengan apa yang diperintahkan oleh guru. Jika melawan, guru dapat memberikan hukuman agar siswa menjadi tertib kembali. Kini kriteria guru sudah mengalami banyak perubahan. Guru kini layaknya seperti teman untuk anak didiknya. Proses belajar mengajar layaknya berdiskusi bersama sehingga guru bukanlah pusat ilmu. Guru juga belajar bersama sehingga murid tidak canggung untuk bertanya ataupun memberikan pendapat di depan kelas. Kondisi pembelajaran ini adalah apa yang disebut dengan proses pembelajaran yang kondusif, di mana siswa dan guru aktif ketika belajar di dalam kelas.

Problem terbesar yang menghinggapi seorang guru ketika berhadapan dengan murid di dalam kelas adalah membuat suasana belajar yang kondusif. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan memang tidaklah segampang membalikkan telapak tangan. Perlu kemampuan khusus dalam membawa suasana kelas menjadi menyenangkan. Membawa suasana menyenangkan di kelas ini tentunya berbeda dengan pekerjaan pembawa acara. Bedanya guru harus mengajarkan pelajaran yang banyak anak anggap bukanlah kegiatan yang menyenangkan, menjadi kegiatan yang seluruh pesertanya menjadi antusias untuk mengikutinya.

Inilah yang menjadi tantangan besar seorang guru. Maka benar adanya jika orang pandai dalam sebuah ilmu, belum tentu bisa menjadi guru yang baik. Sebaliknya guru yang kurang terlalu pandai dalam sebuah ilmu dapat mengajarkan ilmunya dengan sangat baik. Kemampuan membawa suasana belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan inilah yang membedakannya. Jadi modal utama untuk menjadi seorang guru adalah memiliki kemampuan yang baik dalam membawa suasana menjadi begitu kondusif.

Untuk membuat Suasana kondusif, ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh guru. Salah satunya adalah sense of humor atau jiwa humor. Jiwa humor ada yang dibawa sejak lahir dan juga bsai dipelajari. Dengan jiwa humoris ini, suasana tegang bisa mencair kembali setelah guru melemparkan cerita lucu yang mengundang tawa. Jiwa humoris ini layaknya satu skill wajib yang tidak tertulis pada persyaratan mendaftar menjadi seorang guru. Tapi setiap guru harus memilikinya agar suasana belajar dapat diarahkan menjadi kondusif.

Selain untuk menarik perhatian serta memecahkan suasana tegang di dalam kelas, jiwa humoris ini bisa menjadi bukti bahwa guru memiliki kepribadian dan mental yang sehat. Hal ini juga menjadi bukti bahwa guru enjoy menjalankan pekerjaannya. Bagaimana mau mengajarkan ilmu kepada anak didiknya jika gurunya saja dalam keadaan stress karena beban kerja. Masalah kelas yang pasif bisa juga terjadi karena guru yang terbebani dengan pekerjaannya ataupun masalah di di rumah. Inilah pekerjaan berat bagi seorang guru, seberat apapun masalah yang dihadapi di luar sana, jangan sedikitpun membawa masalah itu ke dalam kelas. Sedikit saja masalah itu terpikirkan ketika berada di dalam kelas, suasana kelas akan langsung berubah drastis.

Jiwa humoris memang bisa berasal dari lahir, tapi bisa juga dipelajari. Untuk mempelajari jiwa humoris ini ternyata tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Apalagi meniru lelucon yang banyak beredar di program-program televisi. Lelucon yang sembarangan bisa jadi malah membuat wibawa guru turun drastis. Membuat lelucon sah-sah saja tapi jangan menggunakan kekurangan orang lain menjadi bahan lelucon. Itulah contoh lelucon yang beredar di program-program televisi saat ini yang tidak mungkin dijadikan sebagai bahan lelucon di dalam kelas. Dalam menyematkan lelucon di dalam kelas pun tidak bisa diletakkan ke sembarang tempat. Letakkan lelucon yang tepat serta tidak boleh keluar dari koridor belajar mengajar yang baik dan benar. Berikut ini beberapa ide membuat lelucon di dalam kelas.

Pertama, hubungkan materi humor dengan materi pelajaran yang sedang berlangsung. Poin pertama ini sangatlah berat karena tidak semua materi pelajaran dapat dikaitkan dengan sebuah lelucon. Kenapa cerita humor harus berkaitan dengan pelajaran? Karena dengan cerita humor ini siswa dapat memahami pelajaran dengan lebih cepat. Besok pun ketika ditanya kembali mengenai materi yang diajarkan kemarin, siswa akan dengan mudah mengingatnya karena teringat akan cerita lucu tersebut.

Kedua, materi yang mengundang gelak tawa tidak hanya berasal dari cerita saja. Lelucon itu bisa datang dari foto ataupun video. Jika Anda ingin menggunakan gambar dan video sebagai bahan penyegar suasana di kelas, gunakanlah gambar dan video yang relevan dengan pelajaran. Gambar dan video ini tidak harus sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan. Video dan gambar ini bisa dari hal-hal lain asalkan dapat dikait-kaitkan dengan pelajaran tersebut.

Ketika suasana pelajaran menjadi kurang kondusif, putarlah video yang mengundang gelak tawa. Biarkan anak didik kembali fokus ke depan lalu ketika mereka sudah puas tertawa, mintalah beberapa siswa untuk menjelaskan video tersebut sesuai dengan pelajaran yang sedang diajarkan. Dengan cara ini, siswa akan sangat antusias mengikuti pelajaran dan suasana belajar akan selalu kondusif.

Ketiga, carilah bahan lelucon yang mementingkan kesopanan. Inilah yang membedakan sense of humor seorang guru dan pelawak di televisi. Guru harus memberikan joke yang sopan tapi tetap mengundang tawa. Jika lelucon yang seperti di televisi dijadikan lelucon di dalam kelas, siswa akan memiliki kebiasaan yang kurang baik. Bisa jadi mereka setelah mendengar lelucon dengan melecehkan kekurangan orang lain, mereka akan menirunya. Kalau sudah begitu, tujuan menggunakan humor untuk membuat suasana belajar menjadi kondusif, tidak tercapai dan malah membuat siswa menjadi pribadi yang mudah mencela. Itulah tadi contoh makalah pinjaman uang untuk pendidikan tentang pentingnya sense of humor bagi seorang guru. Meskipun tidak diajarkan di masa kuliah, jiwa humoris ini menjadi syarat mutlak untuk menjadi seorang guru.

Oleh Bela


Comments are closed.