Pentingnya Pembelajaran Efektif

Pentingnya Pembelajaran Efektif

Modernisasi dan globalisasi dengan didukung kemajuan iptek merupakan bingkisan kehidupan yang memberi kenikmatan, kemudahan dan padat nilai tambah. Namun kesemuanya itu jika tidak diiringi dengan pendidikan nilai moral akan melahirkan erosi nilai moral afektual, kultural, dan spiritual. Pada puncaknya, manusia menjadi arogan, eksistensialis, egois, individualis, sekuler, mendewakan ciptaanya sendiri, serta lupa dan bersombong diri terhadap Maha Penciptanya.

Kekeliruan yang terjadi dalam pendidikan dan pengajaran di sekolah yaitu mengesampingkan pembelajaran afektif oleh karena ketidakpahaman atau hanya mengejar target hasil nilai ujian kognitif. Padahal, pembelajaran afektif sangatlah penting karena menentukan pembentukan jati diri atau yang lebih popular dengan istilah pembentukan karakter anak.

Pendidikan dan pengajaran merupakan upaya pemaknaan seluruh potensi diri manusia yang mencakup potensi kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam pendidikan di sekolah, seharusnya ketiga potensi itulah, baik kualitas maupun kuantitasnya dikembangkan dan ditingkatkan. Jadi bukan hanya salah satu potensi yang dikembangkan, ketiga potensi itu merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan.

Pentingnya pembelajaran afektif diutarakan oleh pakar pendidikan afektif Jack R. Fraenkel (1981) yang menyatakan bahwa potensi moralitas manusia itu lebih hebat dari kekuatan bom nuklir. Sementara Piaget (1963) mengatakan bahwa emosi merupakan sumber energi dari berfungsinya intelektual.

Dalam ungkapan hadis Rasul pun dikisahkan mengenai akan hancurnya kehidupan bila segumpal daging yang bernama hati manusia itu rusak.

Dalam peristiwa sejarah, kita mengetahui betapa dahsyatnya ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang efek bahayanya masih dirasakan sampai saat ini. Belum lagi kejadian yang merugikan rakyat, yang semuanya itu adalah hasil perbuatan manusia yang tidak bermoral dan tidak berperikemanusiaan.

Dunia afektif terdiri atas sejumlah potensi afektual yang mencakup sembilan potensi pokok. Yakni insting, emosi, perasaan (feeling), cita-rasa, keinginan (willing), kecintaan (love), sikap (attidude), sistem nilai (value system) dan sistem keyakinan (belief system). Alangkah bijaknya jika sembilan potensi pokok dunia afektif ini dapat dibelajarkan guru kepada siswanya saat penyampaian materi pelajaran yang sedang diajarkan.

Pembelajaran anak yang diiringi dengan nilai moral atau isi pesan kebermaknaannya bagi manusia dan kebesaran Tuhan, tidak menjadi proses dan faktor resonansi kepada ketakwaan dan kemanusiaan. Dengan demikian tujuan pendidikan yang hakiki yaitu menciptakan insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan dapat terwujud.

Created by Petronella


Comments are closed.