Waspadai Disfasia pada Anak

Oleh Zulaikah

Disfasia adalah gangguan perkembangan bahasa yang tidak sesuai dengan perkembangan kemampuan anak seharusnya yang merupakan gejala awal dari gangguan. Penyebab Disfasia adalah adanya gangguan di pusat bicara yang ada di otak. Gangguan ini dapat diakibatkan dari beberapa faktor yaitu: hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor, keturunan, pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua, keterbatasan fisik seperti pendengaran terganggu, otot bicara kurang sempurna, bibir sumbing, dan sebagainya.

Ciri-ciri anak mengalami disfasia pada usia 1 tahun belum bisa mengucapkan kata spontan yang bermakna, seperti mama dan papa. Kemampuan bicara reseptif (menangkap pembicaraan orang lain) sudah baik tapi kemampuan biacara ekspresif (menyampaikan suatu maksud) mengalami keterlambatan. Adapun gejala disfasia pada anak ditunjukkan pada tabel berikut.

Usia

Gejala

4 – 6 BULAN ü  Tidak menirukan suara yang dikeluarkan orang tuanya.

ü   Pada usia 6 bulan belum tertawa atau berceloteh.

8 – 10 BULAN ü  Usia 8 bulan tidak mengeluarkan suara yang menarik. perhatian.

ü  Usia 10 bulan, belum bereaksi ketika dipanggil namanya.

ü  tidak memperlihatkan emosi seperti tertawa atau menangis.

12 – 15 BULAN ü  12 bulan, belum mampu mengeluarkan suara.

ü  12 bulan, tidak menunjukkan usaha berkomunikasi bila membutuhkan sesuatu.

ü  15 bulan, belum mampu memahami arti “tidak boleh” atau “daag”.

ü  15 bulan, belum dapat mengucapkan 1-3 kata.

18 – 24 BULAN ü  18 bulan, belum dapat menucapkan 6-10 kata; tidak menunjukkan ke sesuatu yang menarik perhatian.

ü  18-20 bulan, tidak dapat menatap mata orang lain dengan baik.

ü  21 bulan, belum dapat mengikuti perintah sederhana.

ü  24 bulan, belum mampu merangkai 2 kata menjadi kalimat.

ü  24 bulan, belum dapat meniru tingkah laku atau kata-kata orang lain.

ü  24 bulan, tidak mampu meunjukkan anggota tubuhnya bila ditanya.

3 – 4 TAHUN ü  30 bulan, tidak dapat dipahami oleh anggota keluarga.

ü  36 bulan, tidak menggunakan kalimat sederhana, pertanyaan dan tidak dapat dipahami oleh orang lain selain anggota keluarga.

ü  3 tahun, tidak bisa mengucapkan kalimat.

ü  3,5 tahun, tidak dapat menyelesaikan kata seperti “ayah” diucapkan “aya”.

ü  4 tahun, masih gagap dan tidak dapat dimengerti secara lengkap

Jika anak mengalami gejala tersebut di mungkinkan anak mengalami disfasia. Hal ini akan menghambat perkembangan otak anak, keterlambatan berbicara akan mempengaruhi penyesuaian akademis dan pribadi anak saja juga terhadap kemampuan membaca pada awal anak masuk sekolah. Masalah ini harus segera ditangani dengan cara yang tepat yaitu dengan  bantuan dokter.

Selain membawa anak ke dokter orangtua harus mengajak anak bicara, walaupun sepertinya belum mengerti, tapi kata-kata tersebut akan diingatnya dan suatu saat akan diekspresikannya; Hati-hati dalam memilih kata di depan anak. Karena anak sangat mudah menyerap dan mengingat; Ajak anak ngobrol dalam suasana yang menyenangkan; Ketika bicara usahakan anak memang sedang menaruh perhatian; makanan yang deberikan padat sesuai usia anak untuk merangsang otot bicaranya.


Comments are closed.